Sabtu, 15 September 2012

pidato hari ibu


Pidato Hari Ibu

Assalamu’alaikum warraahmatullahi wabarakatuh,

Yang terhormat Ibu Tri Hastuti selaku guru Bahasa Indonesia,
yang saya hormati ketua kelas X.8,
dan teman-teman kelas X.8 yang saya sayangi,
Untuk mengawali kegiatan hari ini marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik, serta inayah-Nya kepada kita sehingga kita dapat berkumpul di kelas ini dalam acara pidato Bahasa Indonesia. Terima kasih kepada hadirin yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk membawakan pidato yang bertema Hari Ibu.
Hadirin yang saya hormati,
Hari Ibu diperingati setiap tanggal 22 Desember. Hari Ibu merupakan hari kebangkitan kaum perempuan Indonesia yang merupakan persatuan kaum perempuan yang tidak dapat dipisahkan dari kebangkitan dan perjuangan bangsa.
Di dalam agama, ibu merupakan peran yang sangat istimewa dan sangat dihormati. Ibu adalah wanita yang sangat mulia dan derajatnya tiga tingkat dibanding ayah. Diceritakan pada zaman dahulu ada seorang menemui Rasulullah SAW dan bertanya, ”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling harus saya hormati dan patuhi sebaik-baiknya?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. Ia bertanya, “Kemudian siapa?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. Lalu ia bertanya, “Kemudian siapa ya Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. Lalu ia bertanya lagi, “Kemudian siapa lagi?’. Beliau menjawab, “Ayahmu”. Dari percakapan tersebut sungguh tidak diragukan lagi bahwa peran seorang ibu sangatlah mulia dan harus kita hormati pertama kali dan kemudian kita wajib menghormati ayah.

Hadirin yang berbahagia,
Hari Ibu adalah hari yang dapat mengingatkan kembali kepada kita akan jasa dan pengorbanan ibu kita yang begitu besar kepada kita. Dari mulai ia mengandung, melahirkan, merawat, dan mendidik kita. Dia melahirkan kita dengan penuh perjuangan. Saat kita bayi, beliau merawat kita dan memberikan ASInya kepada kita. Pagi, siang, malam beliau relakan waktunya hanya untuk merawat kita. Pada saat kita sudah tumbuh menjadi anak-anak, beliau juga mendidik dan membimbing kita agar kita dapat tumbuh dengan baik dan menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua.
Namun, setelah kita dewasa dan memiliki banyak kesibukan, terkadang kita lupa akan semua jasa dan pengorbanan beliau, bahkan kita tidak lagi memperdulikan beliau. Kita lupa bahwa ada seorang wanita yang selalu menunggui kita di rumah dengan segala doa-doa yang beliau panjatkan untuk kita. Dialah ibu kita.
Bu Tuti dan teman-teman yang saya sayangi,
Marilah kita sebagai anak yang berbakti kepada ibu kita berusahalah mengingat kembali jasa-jasa dan pengorbanan beliau kepada kita. Ingatlah saat ibu menggendong kita dengan sangat perhatian. Ingatlah saat kita menangis dan ibulah yang menghibur kita agar kita bisa tersenyum kembali. Maka dari itu hormatilah dia, sayangilah dia seperti dia menyayangi kita, peluklah dia dan ciumlah tangannya. Janganlah kita sesekali menjadi anak yang durhaka kepada ibu kita! Janganlah membuat beliau menangis karena perbuatan kita. Doa seorang ibu akan dikabulkan oleh Tuhan dan kutukannya akan menjadi kenyataan. Jadilah anak yang taat pada nasihat-nasihat ibu kita. Jadilah anak yang bisa membantu kegiatan sehari-hari beliau walaupun hanya sekedar mencuci piring, mencuci pakaian, ataupun menyapu halaman rumah. Janganlah membantah perintah ataupun membentak ibu kita. Dengan demikian, kelak kita pasti akan menjadi anak yang beliau harapkan. Kita pasti akan sukses dan membuat ibu kita tersenyum dan bangga kepada kita.
Hadirin yang saya hormati,
Semoga dengan pidato saya ini dapat membuat kita menjadi orang yang lebih baik dan lebih berbakti kepada ibu kita. Kiranya cukup sekian pidato yang dapat saya sampaikan. Terima kasih atas perhatian hadirin. Jika ada salah kata dalam menyampaikan, saya mohon maaf setulus-tulusnya.

Wassalamu’alaikum warraahmatullahi wabarakatuh,

1 komentar: