Pidato Hari Ibu
Assalamu’alaikum warraahmatullahi
wabarakatuh,
Yang terhormat Ibu Tri Hastuti selaku
guru Bahasa Indonesia,
yang saya hormati ketua kelas X.8,
dan teman-teman kelas X.8 yang saya
sayangi,
Untuk mengawali
kegiatan hari ini marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang
telah melimpahkan rahmat, taufik, serta inayah-Nya kepada kita sehingga kita
dapat berkumpul di kelas ini dalam acara pidato Bahasa Indonesia. Terima kasih
kepada hadirin yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk membawakan
pidato yang bertema Hari Ibu.
Hadirin yang saya
hormati,
Hari Ibu diperingati
setiap tanggal 22 Desember. Hari Ibu merupakan hari kebangkitan kaum perempuan
Indonesia yang merupakan persatuan kaum perempuan yang tidak dapat dipisahkan
dari kebangkitan dan perjuangan bangsa.
Di dalam agama, ibu
merupakan peran yang sangat istimewa dan sangat dihormati. Ibu adalah wanita
yang sangat mulia dan derajatnya tiga tingkat dibanding ayah. Diceritakan pada
zaman dahulu ada seorang menemui Rasulullah SAW dan bertanya, ”Wahai
Rasulullah, siapakah orang yang paling harus saya hormati dan patuhi
sebaik-baiknya?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. Ia bertanya, “Kemudian siapa?”.
Beliau menjawab, “Ibumu”. Lalu ia bertanya, “Kemudian siapa ya Rasulullah?”.
Beliau menjawab, “Ibumu”. Lalu ia bertanya lagi, “Kemudian siapa lagi?’. Beliau
menjawab, “Ayahmu”. Dari percakapan tersebut sungguh tidak diragukan lagi bahwa
peran seorang ibu sangatlah mulia dan harus kita hormati pertama kali dan
kemudian kita wajib menghormati ayah.
Hadirin yang
berbahagia,
Hari Ibu adalah hari
yang dapat mengingatkan kembali kepada kita akan jasa dan pengorbanan ibu kita
yang begitu besar kepada kita. Dari mulai ia mengandung, melahirkan, merawat,
dan mendidik kita. Dia melahirkan kita dengan penuh perjuangan. Saat kita bayi,
beliau merawat kita dan memberikan ASInya kepada kita. Pagi, siang, malam
beliau relakan waktunya hanya untuk merawat kita. Pada saat kita sudah tumbuh
menjadi anak-anak, beliau juga mendidik dan membimbing kita agar kita dapat
tumbuh dengan baik dan menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua.
Namun, setelah kita
dewasa dan memiliki banyak kesibukan, terkadang kita lupa akan semua jasa dan
pengorbanan beliau, bahkan kita tidak lagi memperdulikan beliau. Kita lupa
bahwa ada seorang wanita yang selalu menunggui kita di rumah dengan segala doa-doa
yang beliau panjatkan untuk kita. Dialah ibu kita.
Bu Tuti dan
teman-teman yang saya sayangi,
Marilah kita sebagai
anak yang berbakti kepada ibu kita berusahalah mengingat kembali jasa-jasa dan
pengorbanan beliau kepada kita. Ingatlah saat ibu menggendong kita dengan
sangat perhatian. Ingatlah saat kita menangis dan ibulah yang menghibur kita
agar kita bisa tersenyum kembali. Maka dari itu hormatilah dia, sayangilah dia
seperti dia menyayangi kita, peluklah dia dan ciumlah tangannya. Janganlah kita
sesekali menjadi anak yang durhaka kepada ibu kita! Janganlah membuat beliau
menangis karena perbuatan kita. Doa seorang ibu akan dikabulkan oleh Tuhan dan
kutukannya akan menjadi kenyataan. Jadilah anak yang taat pada nasihat-nasihat
ibu kita. Jadilah anak yang bisa membantu kegiatan sehari-hari beliau walaupun
hanya sekedar mencuci piring, mencuci pakaian, ataupun menyapu halaman rumah.
Janganlah membantah perintah ataupun membentak ibu kita. Dengan demikian, kelak
kita pasti akan menjadi anak yang beliau harapkan. Kita pasti akan sukses dan
membuat ibu kita tersenyum dan bangga kepada kita.
Hadirin yang saya
hormati,
Semoga dengan pidato
saya ini dapat membuat kita menjadi orang yang lebih baik dan lebih berbakti
kepada ibu kita. Kiranya cukup sekian pidato yang dapat saya sampaikan. Terima
kasih atas perhatian hadirin. Jika ada salah kata dalam menyampaikan, saya
mohon maaf setulus-tulusnya.
Wassalamu’alaikum warraahmatullahi
wabarakatuh,
bagus buat nambah" referensi :D
BalasHapus